Dari Kimia ke Data: Bagaimana Stefanie Jadi Game Changer di Merck dengan Power BI
Kisah Stefanie Sugiarto, lulusan Kimia Murni yang berhasil menciptakan impact nyata di Merck melalui implementasi Excel dan Power BI. Dari proses manual menjadi data-driven, ia membantu banyak stakeholder bekerja lebih efisien dan mendapatkan apresiasi atas kontribusinya.
ALUMNI SUCCESS STORY
Codee Team
3/25/20262 min read


Perjalanan Stefanie Sugiarto menjadi sosok yang membawa perubahan lewat data tidak dimulai dari dunia kerja—melainkan dari sebuah keputusan sederhana: belajar.
Sebagai lulusan Kimia Murni, Stefanie awalnya tidak melihat adanya hubungan langsung antara latar belakangnya dengan dunia data.
“Aku dulu ngerasa Kimia itu jauh banget dari data. Kayaknya bukan jalur yang nyambung.”
Namun di sisi lain, ia menyadari bahwa di dunia kerja, hampir semua proses melibatkan data. Hanya saja, ia belum memiliki skill untuk mengolah dan memanfaatkannya secara optimal.
Dari situlah Stefanie memutuskan untuk belajar Excel dan Power BI di Codee.
Di awal kelas, semuanya terasa baru.
“Awalnya cukup challenging, apalagi pas mulai masuk ke logic dan dashboard. Tapi justru di situ aku mulai ngerti cara ‘berpikir pakai data’.”
Selama proses belajar, Stefanie tidak hanya memahami tools, tetapi juga mulai mengubah cara pandangnya terhadap data—dari sekadar angka menjadi alat untuk membantu pengambilan keputusan.
“Yang aku suka, belajarnya nggak cuma teori. Langsung praktik dan relate sama dunia kerja.”
Setelah menyelesaikan pembelajaran, Stefanie mulai menerapkan ilmunya di pekerjaannya sebagai QMS-SRC Specialist di Merck.
Ia melihat banyak proses yang sebelumnya dilakukan secara manual, dengan data yang tersebar dan sulit dipahami oleh stakeholder.
Tanpa menunggu diminta, Stefanie mulai membangun solusi.
“Aku coba bikin dashboard Power BI untuk ngerapihin data yang ada. Tujuannya simpel: biar lebih gampang dipakai dan dipahami.”
Hasilnya ternyata signifikan.
Dashboard yang ia buat membantu tim menghemat waktu, mengurangi proses manual, dan membuat informasi menjadi lebih jelas dan terstruktur.
Stakeholder yang sebelumnya harus membaca data mentah, kini cukup melihat visualisasi untuk langsung memahami kondisi yang ada.
“Sekarang kalau ada yang butuh insight, tinggal buka dashboard. Nggak perlu lagi compile dari awal.”
Perubahan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memperbaiki cara tim berkomunikasi dan mengambil keputusan.
Apa yang awalnya hanya inisiatif pribadi, berubah menjadi kontribusi nyata.
Atas dampak yang ia berikan, Stefanie pun mendapatkan apresiasi atas kontribusinya dalam mempermudah proses kerja dan membantu banyak stakeholder.
Menariknya, di titik ini Stefanie justru melihat bahwa latar belakang Kimia yang ia miliki bukanlah sesuatu yang terpisah dari data.
“Ternyata bukan nggak nyambung. Mindset analisis dari Kimia itu kepake banget—tinggal ditambah tools seperti Excel dan Power BI.”
Kisah Stefanie menunjukkan bahwa belajar skill baru bukan hanya tentang menambah kemampuan, tapi tentang membuka cara baru dalam memberikan impact.
Karena pada akhirnya, bukan soal kita berasal dari bidang apa—
melainkan bagaimana kita menggunakan skill untuk menciptakan perubahan nyata.

